Suatu karya hanya benar-benar selesai, hanya bila senimannya memutuskan demikian. Itu yang saya rasakan dan alami, setidaknya mengenai tulisan. Sekitar awal tahun ini saya mengirimkan manuskrip mengenai filsafat musik Adorno ke penerbit kesayangan saya. Tulisan tersebut diadaptasi dari tesis saya. Saya ditanya, "Apakah ini sudah selesai betul?" Saya jawab "Iya". Tetapi beberapa hari atau minggu kemudian saya mengirimkan beberapa kali revisi lagi, hingga penerbit saya bilang, "Selesaikan saja dulu hingga yakin". Lalu saya bilang bahwa saya sudah yakin itu selesai.
Lalu beberapa bulan kemudian, yaitu belakangan ini, saya kembali berkutat dengan manuskrip yang sama. Saya memang sempat menyuruh diri saya berhenti membaca buku-buku atau filsuf-filsuf yang dekat dengan manuskrip itu, sebab itu bakal mengusik pikiran saya, sebab nanti buku itu tidak bakal kelar-kelar, sebab toh tidak ada buku atau apapun yang sempurna. Baca novel saja, ke museum, atau ke hutan dan danau. Coba santai dan menikmati hidup pokoknya. Tetapi kadang pertemuan dengan buku tidak dapat dicegah, dan lagipula, artinya tulisan saya masih bisa diperbaiki lagi. Jadi, di sinilah saya, kembali berkutat dengan manuskrip yang sama karena beberapa kalimat di sebuah bacaan. Lalu tentu hal itu merembet ke bacaan-bacaan lainnya dan mengedit bagian-bagian lainnya.
Kegiatan atau pekerjaan menulis ini sering tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh banyak orang, bahkan bagi mereka yang katanya berpendidikan dan berpikiran terbuka sekalipun. Walaupun di balik layarnya terdapat proses mencari berbagai buku, membaca, membandingkan pemikiran, berpikir sendiri demi berpikir, berubah pikiran, menemukan pikiran baru; perjalanan yang cukup mengasyikkan, tetapi juga panjang, berat, melelahkan, dan kadang menjemukan, tidak ada yang mau tahu sisi tersebut karena kesannya tidak menyenangkan sama sekali dan tidak glamor.
Jadi bila saya ditanya para acquaintances "Kemana saja kamu, kok tidak kelihatan (di sosial media dia)?" Saya bilang saja, "Belanja dan masak" atau "Naik sepeda" atau "Mengobrol dengan bebek". Atau supaya tidak ditanya seperti itu, saya memposting hal-hal ringan nan menghibur di media sosial, bahwa saya ada, normal, dan ringan. Hal-hal itu juga toh benar adanya sebab saya pun hanya manusia dan rakyat jelata yang juga butuh makan dan hiburan. Juga sebab penjelasan visual seperti itu lebih mudah diterima orang-orang banyak daripada saya bilang atau menunjukkan bahwa "Saya sibuk bergulat dengan pikiran saya dan tulisan saya karena berbagai buku" yang respon familiar dari masyarakat tidak dewasa dan tidak sehat biasanya adalah "Wah sok sekali! Sombong!" bukannya antusias ingin berbagi pengetahuan atau belajar bersama.
Jadi bila saya ditanya para acquaintances "Kemana saja kamu, kok tidak kelihatan (di sosial media dia)?" Saya bilang saja, "Belanja dan masak" atau "Naik sepeda" atau "Mengobrol dengan bebek". Atau supaya tidak ditanya seperti itu, saya memposting hal-hal ringan nan menghibur di media sosial, bahwa saya ada, normal, dan ringan. Hal-hal itu juga toh benar adanya sebab saya pun hanya manusia dan rakyat jelata yang juga butuh makan dan hiburan. Juga sebab penjelasan visual seperti itu lebih mudah diterima orang-orang banyak daripada saya bilang atau menunjukkan bahwa "Saya sibuk bergulat dengan pikiran saya dan tulisan saya karena berbagai buku" yang respon familiar dari masyarakat tidak dewasa dan tidak sehat biasanya adalah "Wah sok sekali! Sombong!" bukannya antusias ingin berbagi pengetahuan atau belajar bersama.
Rasa cemas mengenai tulisan saya juga tidak pernah pudar. Sebab pendapat saya sendiri mengenai suatu hal bisa terus berubah, bisa saja besok saya tidak setuju pada tulisan saya kemarin. Atau bisa saja dengan beberapa tambahan pengetahuan, saya memandang tulisan saya usang. Tapi ya sudahlah. Menulis kajian filsafat mungkin memang begitu.
