Mungkinkah Hidup yang Benar di Dunia yang Salah?



Bisakah kita hidup dengan benar di dunia yang sudah yang terlanjur buruk dan keji ini? Dalam manuskrip yang saya kerjakan belakangan mengenai filsafat Adorno, pertanyaan tersebut turut meramaikan pikiran.

Sebagai individu yang hidup dalam masyarakat dengan segala aturan, tradisi, konvensi, dan sistem tertentu, kita telah dilatih sedemikian rupa—untuk patuh dan tunduk pada konformitas, untuk mengimitasi, menginginkan hal-hal yang serupa, dan melakukan hal-hal yang sama. Sejak berabad-abad lalu, masyarakat yang merasa maju dan beradab dalam kapitalisme melatih para individu untuk saling menilai harga diri bukan berdasarkan keunikan diri namun berdasarkan harta, posisi, dan status di masyarakat. Budaya industri mempengaruhi segala aspek dalam kehidupan kita, hingga pada hal-hal estetis seperti selera dan hasrat. 

Bila pun ada harapan yang mewujud sebagai bentuk musik baru yang memiliki fungsi emansipatoris untuk menyadarkan dan karenanya mendorong perubahan, kemajuan, dan kebebasan—masalahnya lalu terletak juga pada kapasitas para individu. Sejak terlempar di dunia, individu dibentuk sedemikian rupa oleh masyarakatnya. Terlatih pada segala ilusi pilihan dan individualisasi yang nampak pada segala produk yang disajikan dan digunakan. Setelah menjual waktu, tenaga, dan hasil kerja mereka, di waktu luangnya para individu telah terlatih pula untuk mengalienasikan diri dengan mengkonsumsi produk-produk mudah di waktu luangnya, hiburan dari mall, barang-barang, film, dan musik populer pun mengisi kekosongan. 

Seperti nada-nada dalam teknik dua belas nada yang nampak bebas namun dikekang, para individu dalam masyarakat pun tidak pernah benar-benar bebas. Sepanjang sejarah, segala tindakan manusia untuk mencerahkan dengan pengetahuan pun malah mengkhianati tujuannya, dengan kalkulasi dan rasionalitas instrumental malah kembali pada mitos dan kegelapan—kebebasan dan kemajuan hanyalah ilusi. Di sisi lain dalam sejarah, berbagai gagasan mulia yang menggerakkan berbagai perubahan yang mengatasnamakan perubahan dan kemajuan sosial dengan revolusi juga mengkhianati berbagai gagasan mulia tersebut dan malah meneruskan eksploitasi dan dominasi dengan lebih biadab dan penuh kekerasan.

Segala standar kita mengenai yang lebih baik, lebih etis, lebih bebas, lebih sehat, lebih waras, lebih rasional, lebih maju, dan seterusnya pun hanya merupakan konsep-konsep cacat yang mengacu pada referensi dan derivasi dari segala pengalaman terbatas kita mengenai berbagai kondisi negatif di dunia yang buruk dan cacat ini. 

Bahagia pun menurut saya merupakan konsep kosong dan semu. Paling dekat mungkin hanya berbagai kesenangan sesaat, yang dapat lenyap dari pikiran-pikiran berikutnya yang menganalisa rasa senang tersebut. Apa rasa senang, senyum dan tertawa barusan karena gugup, karena makan gula, karena mau menyenangkan orang lain, atau memang karena senang? Kalaupun memang senang, kenapa hal-hal tertentu bisa membuat senang? Apa ini rasa senang yang juga tidak otentik karena mengikuti konstruksi masyarakat? Apa kita bisa lepas dari segala kategori yang kita kenal dan mencapai kategori senang baru? Memang, mungkin rasa senang dekat dengan pura-pura, acuh, dan lupa. Tepatnya lupa pada penderitaan yang sebenarnya terus ada dari segala dominasi samar yang kita alami di masyarakat, lupa pada segala ketidakbebasan kita. 

Setidaknya seperti yang disarankan Adorno, yang mampu kita lakukan di dunia yang salah ini adalah terus berpikir dan mengkritisi bahkan pada hal-hal yang dengan lantang menjanjikan membawa perubahan dan kemajuan. Sebab, berangkat dari segala kondisi sosial negatif, filsafat hanya mampu memikirkan kemungkinan, bukan memastikan apalagi menjanjikan tahap akhir yang lebih indah. 

Tidak seperti yang dipikirkan para romantis, mendekati kebebasan melalui pikiran itu memang membutuhkan kegilaan tertentu, untuk terus protes, untuk terus marah atas segala kondisi yang salah dan yang bobrok di masyarakat. Mendekati kebebasan, bukannya nyaman, justru memang terasa menyakitkan. Untuk menyadari penderitaan yang sesungguhnya kita alami di kehidupan ini, ternyata mesti kita lalui juga lewat menderita.